Amazing Student
October 2nd, 2007 by andi-learningbentuk yang sebaik-baiknya”
(QS.95:4)
Apa sih perbedaan pelajar yang berprestasi dengan pelajar yang tidak ?
Para Pembaca yang budiman, pertanyaan diatas adalah pertanyaan utama yang menjadi alasan mengapa tulisan ini saya susun. Saya juga yakin pertanyaan ini juga pertanyaan yang banyak diajukan oleh para orang tua yang ingin anaknya berhasil di sekolah. Pertanyaan ini juga banyak ditanyakan oleh para pelajar yang sedang menimba ilmu di sekolah. Dan boleh jadi ini juga pertanyaan yang saat ini sedang Anda tanyakan dalam hati sehingga Anda memilih untuk membaca buku ini.
Menurut saya, ini adalah pertanyaan yang wajar ditanyakan oleh seseorang. Setiap orang, saya yakin, juga telah memiliki jawaban untuk pertanyaan tersebut. Ada yang menjawab bahwa pelajar menjadi pandai karena memiliki kualitas otak yang lebih baik, lebih besar atau lebih encer. Ada lagi yang menjawab bahwa pelajar itu menjadi pandai karena makanannya bergizi, karena orang tuanya juga pandai, karena hidup di lingkungan yang aman, karena jarang stres waktu kecil, karena sering didoakan orang tuanya, dan masih banyak lagi jenis jawaban yang diberikan.
Beberapa jawaban diatas bisa benar tapi juga bisa salah. Dulu saya ini termasuk orang yang berkeyakinan bahwa kepandaian seseorang itu karena keturunan dari orang tua dan juga karena konsumsi makanan yang bergizi. Namun sejalan dengan semakin banyaknya pergaulan yang saya alami, semakin banyak juga informasi yang berlawanan dengan keyakinan tersebut. Saya sering menemui tipe pelajar yang orang tuanya kaya dan berpendidikan tinggi, namun dia tidak berprestasi di sekolah. Sebaliknya ada pula pelajar yang berasal dari keluarga yang pas-pasan, orang tuanya pun bukan sarjana namun dia menjadi pelajar yang berprestasi di sekolahnya. Melihat kenyataan itu akhirnya saya mulai mempertanyakan keyakinan awal saya tentang pelajar yang cerdas itu.
Pertanyaan pada diri sendiri tersebut akhirnya membawa saya untuk membaca banyak buku yang membahas tentang kecerdasan, tentang pembelajaran, tentang teknologi pendidikan dan sejenisnya. Buku-buku itu antara lain berjudul Quantum Learning, Learning Revolution, Born to be Genius, Genius Learning Strategies, Master It Faster, I Am Gifted so Are You, dsb. Dari buku-buku tersebut saya memperoleh banyak informasi tentang apa dan bagaimana menjadi pelajar yang sukses. Nah, info yang menarik yang ingin saya sampaikan pada permulaan tulisan ini kepada Anda, para pembaca yang budiman, adalah sebuah kesimpulan yang ada di setiap buku-buku yang saya baca tersebut, yaitu bahwa sebenarnya faktor yang paling menentukan kecerdasan seorang pelajar bukanlah pada besarnya otak atau gizi yang ia makan ataupun keturunan siapa dia, melainkan ditentukan oleh SEBERAPA BANYAK LATIHAN TELAH DILAKUKAN untuk membuat OTAK menjadi CERDAS. Latihan-latihan terhadap otak itulah yang menjadi STRATEGI BELAJAR para pelajar sukses. Mereka melakukan STRATEGI yang jauh lebih efektif dibandingkan dengan strategi belajar yang dilakukan oleh pelajar yang biasa. Kami selalu mengatakan kepada para peserta pelatihan learning skills bahwa perbedaan antara pelajar yang sukses dan pelajar yang ’gagal’ dapat dikiaskan dengan kalimat ”MODAL SAMA, STRATEGI BERBEDA”.
Anda dan hampir seluruh pelajar yang ada di planet bumi ini pada dasarnya memiliki otak dan system syaraf yang sama. Kemudian pertanyaannya adalah kalau memang semua pelajar memiliki modal yang sama, lalu mengapa ada beberapa pelajar yang dapat memahami dengan mudah dan mampu dengan mudah pula menjawab pertanyaan-pertanyaan ujian? Sedangkan di sisi yang lain mengapa ada beberapa pelajar yang harus membaca sebuah halaman buku sampai berulang-ulang untuk hanya sekedar memahami saja ? Apalagi kalau mereka diminta untuk mengingat apa yang baru saja mereka baca, waduh tambah butuh waktu yang lama sekali. Mengapa ini bisa terjadi ?
Alasan yang menyebabkan beberapa pelajar dapat meraih kesuksesan dalam belajar adalah karena pelajar tersebut dengan cara tertentu atau secara instingtif (karena karunia Allah SWT) menggunakan strategi yang benar dalam belajar sehingga dapat mengakses porsi yang lebih besar dari kekuatan otak mereka. Mereka sukses karena mereka telah menguasai rahasia dari ilmu Learning how to learn.
Saya percaya bahwa kesuksesan seorang pelajar yang cerdas dapat ditiru oleh orang lain, karena setiap kesuksesan pasti meninggal jejak. Kalau Anda dapat meniru dengan persis strategi apa yang dilakukan oleh pelajar berprestasi tersebut, saya yakin Anda akan mampu menghasilkan prestasi yang sama ! Bahkan Anda juga akan dapat menghafal dengan mudah dan mengaplikasikan apa yang Anda ketahui pada pertanyaan-pertanyaan ujian yang selama ini Anda anggap sulit. Intinya, kalau orang lain bisa melakukannya, maka Anda juga memiliki kemungkinan untuk dapat melakukannya, ini hanyalah masalah strategi saja !
Strategi Yang Membedakan
Setiap pelajar berhak untuk SUKSES, demikian juga dengan Anda.
Namun, perlu kita ingat bahwa Kesuksesan itu punya ’HARGA’ yang harus kita bayarkan bila kita ingin memperolehnya. Apakah HARGA dari Kesuksesan itu ?
HARGA dari sebuah KESUKSESAN adalah PENGORBANAN !
Mari kita tanyakan pada diri kita masing-masing, Apakah kita berani mengorbankan hal-hal dibawah ini demi kesuksesan BELAJAR kita ?
- Waktu bermain ?
- Waktu nonton TV ?
- Waktu untuk Baca komik ?
- Waktu jalan-jalan ?
- Waktu tidur ?
- Perasaan ?
Intinya adalah seberapa berani kita untuk ’sengsara’ terlebih dahulu, demi mendapatkan ’kenikmatan’ kemudian. Seperti kata seorang ulama, Ibnu Qayyim, beliau mengatakan bahwa ”Orang-orang pandai di dunia ini sepakat bahwa tidak ada KENIKMATAN yang diperoleh dari KENIKMATAN pula. ”
Nah, untuk lebih jelasnya, kita bisa perhatikan pilihan-pilihan strategi untuk berhasil dalam ujian. Ijinkan saya untuk mengajukan pertanyaan lain lagi, …
Kapan Anda mulai belajar untuk ujian akhir Anda ?
Pertanyaan selanjutnya, …
Bagaimana cara Anda belajar untuk persiapan ujian akhir tersebut ? Dan berapa tahapan belajar yang Anda lakukan ?
Untuk memahami maksud pertanyaan itu, saya akan ceritakan tentang sebuah pengalaman seorang trainer dan penulis buku di Singapore yang bernama Adam Khoo. Dari hasil penelitiannya terhadap pertanyaan tersebut, ternyata 90 % pelajar menjawab bahwa mereka memulai belajar untuk persiapan ujian akhir 1 (satu) bulan sampai 3 (tiga) bulan sebelumnya. Tahapan belajar yang mereka lakukan juga bervariasi seperti dibawah ini :
Tipe Pelajar 2 Langkah.
Mereka hanya membaca catatan dan buku pelajaran (langkah 1) kemudian maju mengikuti ujian (langkah 2). Pelajar tipe ini biasanya adalah pelajar yang ada di ambang batas ketidaklulusan, biasanya mereka lulus karena beruntung saja (bayangkan mereka bahkan tidak berusaha menghafalkan apa yang telah mereka catat).
Tipe Pelajar 3 Langkah.
Mereka membaca catatan dan buku pelajaran (langkah 1) kemudian menghafalkannya (langkah 2), dan selanjutnya maju mengikuti ujian (langkah 3). Pelajar tipe ini biasanya prestasinya biasa-biasa saja, karena yang harus mereka hafalkan sangat banyak dalam waktu yang singkat, hanya semalam! Biasanya disebut juga cara SKS, Sistem Kebut Semalam .
Tipe Pelajar 4 Langkah.
Mereka membaca catatan dan buku pelajaran (langkah 1), menghafalkan apa yang telah dibaca (langkah 2) , kemudian berlatih mengerjakan soal-soal secara teratur (langkah 3) dan kemudian maju mengikuti ujian (langkah 4). Pelajar tipe inilah yang selalu mendapat prestasi yang memuaskan. Karena mereka mengatur waktunya dengan baik dan tidak belajar dengan mendadak saja, tetapi belajar teratur sehingga yang mereka hafal akan lebih banyak dan lebih lama.
Pembaca yang budiman, dari 3 tipe pelajar diatas tentunya sama-sama kita ketahui bahwa ’pelajar tipe 4 langkah’ melakukan lebih banyak pengorbanan dibanding yang lain. Mereka harus menyiapkan waktu lebih banyak untuk mereview pelajaran yang telah diterima, mereka menyediakan waktu untuk menghafalkan, dan mereka juga menyediakan waktu untuk berlatih soal lebih banyak. Nah, dengan semakin banyaknya waktu yang mereka sediakan untuk belajar, itu khan berarti mereka juga telah mengurangi banyak waktu untuk kegiatan lain khan ?!
No Pain, No Gain! Begitu kata pepatah lama yang sering kita dengar. Kalau kita ingin memperoleh hasil belajar yang baik, ya kita harus berani untuk ’sengsara’ mempersiapkan diri dengan baik.
Misalnya untuk menghafalkan pelajaran yang sudah diterima, kita harus ’berani’ untuk mengulangi membaca berkali-kali. Tahukan Anda bahwa memory kita terhadap sesuatu pelajaran yang baru saja diterima akan berkurang sampai hanya tinggal 20% saja dalam waktu 24 jam ? Supaya kita tetap ingat pelajaran yang terdahulu maka yang harus dilakukan ya mengulangi membaca lagi. Untuk lengkapnya periode pengulangannya adalah seperti ini :
Setiap pelajaran yang baru saja kita terima harus kita review / ulang baca lagi pada :
- 24 jam kemudian
- Setelah itu 7 hari kemudian
- Setelah itu 1 bulan kemudian
- Setelah itu setiap 3 bulan, insyaallah hafalan Anda akan menetap.
Merasa sulit melakukan ? Tentu saja, ini memang membutuhkan usaha yang cukup besar, tetapi kami yakinkan Anda bahwa hasil yang akan Anda peroleh jauuuhhhhh lebih BESAR !
“Wahai manusia, lakukanlah amal-amal menurut kemampuan kalian, karena sesungguhnya Allah tidak akan bosan sebelum kalian bosan. Dan sesungguhnya amal yang paling disukai Allah ialah amal yang lestari walaupun sedikit”
(HR. Bukhari & Muslim)
Konsep Diri Pemenang Vs Pecundang
Pembaca yang budiman, tahukah Anda bahwa hal utama yang membedakan seorang pelajar sukses dengan pelajar “gagal” adalah cara mereka berkomunikasi pada diri sendiri dan sekaligus cara mereka menjawab pertanyaan ini, “Apakah Anda ingin SUKSES ?”
Anda mungkin menjawab, “Tentu saja, semua orang pasti INGIN SUKSES!”. Sayangnya, harus saya katakan disini, ternyata tidak semua orang benar-benar INGIN SUKSES. Telah banyak buku yang membahas tentang teknik belajar, bahkan telah banyak berdiri lembaga bimbingan belajar, tetapi apakah jumlah pelajar yang ‘gagal’ semakin berkurang ? Dari data terakhir ternyata, jumlah siswa yang tidak lulus di masing-masing kota di Jatim masih ribuan, lho! Waduh gawat!
Alasan utama kenapa mereka ‘gagal’ adalah karena konsep diri yang salah tentang diri mereka sendiri. Mereka menganggap diri mereka tidak ‘bisa’ atau tidak ‘layak’ untuk berprestasi. Bahkan mereka sering menganggap diri mereka sudah BODOH sejak lahir.
Saya punya pengalaman pribadi, pada suatu kesempatan mengisi training motivasi di sebuah SLTP di sebuah Kabupaten di Jatim, kami bertanya pada salah satu peserta, “ Apa cita-citamu ?”. Ternyata jawabannya luar biasa mengejutkan, si adik SLTP ini menjawab dengan lugunya, “Saya gak punya cita-cita mas, lha wong saya ini lho Cuma anak seorang petani, mau punya cita-cita apa”.
Anda bisa bayangkan kalau dirinya sendiri saja tidak percaya bahwa dirinya bisa sukses, lalu bagaimana mungkin orang lain bisa membantunya ? Kalau Anda masih memiliki Konsep Diri yang ‘salah’, maka apapun teknik belajar yang diajarkan oleh guru / trainer / buku yang Anda baca tidak akan pernah memberikan hasil.
Menurut survey yang dilakukan oleh ahli pendidikan, ternyata yang memiliki konsep diri sebagai PELAJAR SUKSES atau PEMENANG itu tidak banyak, hanya sekitar 5 %. Mereka adalah pelajar yang benar-benar ingin sukses. Kesungguhan itu ditunjukkan dengan usaha mereka yang keras untuk meraih nilai yang terbaik (tentunya dengan cara-cara yang jujur ). Misalnya, kalau untuk mendapat prestasi bagus dia harus belajar 8 jam per hari maka dia dengan semangat akan melakukannya. Kalau untuk berprestasi dia harus mengurangi waktu nonton TV maka dia pasti akan melakukannya, apalagi kalau hanya untuk mengurangi waktu bermain, waktu santai ataupun waktu jalan-jalan. Intinya adalah dia mau ‘membayar harga untuk meraih kesuksesan’ yaitu PENGORBANAN.
Sebaliknya, pelajar yang memiliki konsep diri seorang PELAJAR GAGAL atau PECUNDANG, enggan untuk ‘berkorban’. Dia hanya mau belajar bila hal tersebut dirasa tidak terlalu sulit, dia tidak mau melakukan sesuatu yang membuat dirinya ‘sengsara’, seperti mengurangi waktu nonton TV, main game, waktu santai ataupun jalan-jalan. Baginya sesuatu yang SULIT dilakukan pasti membuat dirinya SENGSARA, oleh karena itu harus dihindari. Dia lebih memilih untuk memperoleh kenikmatan saat ini saja (jangka pendek) daripada memetik hasil kenikmatan di kemudian hari (jangka panjang). Padahal perlu Anda ketahui, bahwa para ahli di dunia ini telah sepakat bahwa tidak ada KENIKMATAN yang diperoleh dari KENIKMATAN pula, selalu diawali dengan ‘KESENGSARAAN’. Misal mau dapat nilai ujian bagus, ya.. rajin belajar. Mau mendapatkan gaji besar,ya… bekerja dengan giat. Betul, khan ?!
Oleh karena itu saya sarankan Anda untuk memilih menjadi seorang PEMENANG karena itu akan memberi kebaikan dan YAKINLAH bahwa Anda diciptakan memang sebagai PEMENANG! Dan memang Allah telah menciptakan kita sebagai seorang PEMENANG!
Ada bukti yang menunjukkan bahwa kita semua dilahirkan sebagai seorang pemenang. Percayakah Anda kalau saya katakan bahwa Anda adalah PEMENANG dari lomba berenang yang diikuti oleh 4 juta peserta di lautan asam yang sangat berat ? Peristiwa itu terjadi saat hanya satu spermatozoa (dari jutaan yang lain) yang berhasil mencapai sel telur terlebih dahulu. Kemudian proses itu berlanjut menjadi janin di rahim kemudian menjadi bayi yang lahir ke dunia. Dan bayi itu adalah Anda ! Anda memang dilahirkan ke dunia ini sebagai PEMENANG.
“Ya Allah…., aku berlindung kepada-Mu dari rasa lemah dan sifat malas, aku berlindung kepada-Mu dari rasa takut dan bakhil, dan akan berlindung kepada-MU dari beban hutang dan kungkungan manusia”
(HR.Bukhari & Muslim)